Sabtu, 02 April 2011

Battle LA



Battle Los Angeles, sebuah film aksi fiksi-ilmiah, dengan alur cerita yang terus maju secara konstan, akting yang solid, dan mengombinasikan unsur misteri, anugerah, dan tekad.
Cerita dimulai dengan hari yang indah di California dan di pagi itu laut tampak biru cerah. Tidak ada yang luar biasa ketika kita diperkenalkan pada tokoh Staff Sersan Michael Nantz (Aaron Eckhart), pada tahun-tahun senjanya. Nantz telah mengabdi selama 20 tahun di Marinir, dan di cerita ini dia baru saja pensiun.
Observatorium Astrologi mendeteksi sebuah benda angkasa mirip meteor, dan kota-kota besar di seluruh dunia melaporkan bahwa meteor-meteor tersebut akan menabrak bumi. Perintah evakuasi segera diberikan bagi warga sipil untuk mengosongkan rumah mereka, di bawah pengawasan militer.
Merasa bahwa ini merupakan takdirnya untuk menolong warga yang sedang panik, Nantz pun segera membantu melakukan evakuasi. Tetapi dia segera terlibat konflik dengan atasannya yang baru, Letnan Martinez (Ramon Rodriguez)

.
Nantz digambarkan sebagai seorang pria dengan karakter yang baik dan halus. Di sepanjang film, dia beralih dari seorang pria yang berpandangan kaku menjadi seorang pemimpin yang heroik. Sebagai seorang marinir, pembawaannya tenang namun sensitif, sayangnya ia memiliki reputasi buruk karena pernah kehilangan anak buahnya di medan perang, karena ketika itu dia lebih mementingkan keselamatan nyawanya sendiri.
Mampukah akhirnya Nantz memenangkan dukungan dari anak buahnya dan sekaligus memenangkan pertempuran melawan ancaman yang tidak diketahui itu?
Yang menjadi musuh di Battle: Los Angeles adalah sepasukan makhluk asing dengan tampilan figur perpaduan antara organik dan robot, salah satu desain baru dalam genre fiksi-ilmiah. Meskipun asal-usulnya yang masih menjadi tanda tanya, namun tidak ada yang kurang dari segi sinematografinya.
Penggambaran kota Los Angeles di film ini sangat realistis dan akurat, mulai dari angle yang menampakkan kota secara luas, lengkap dengan rambu jalan, peta, dan transportasi umum.
Disutradarai oleh Jonathan Liebesman, yang berhasil menghadirkan suatu sinematografi yang sangat baik. Kamera terus bergerak sepanjang durasi film dengan tempo yang sempurna. Bahkan, kamera ini seolah hampir tidak pernah diam, terus bergerak dari adegan: tembakan, ledakan, kobaran api, pertarungan, termasuk menampilkan pula berbagai sudut perspektif ruang lingkup yang unik.
Liebesman berkata dalam catatan pers, “Kami benar-benar ingin setiap orang yang menonton film ini merasa seolah mereka menjadi salah satu marinir kami.” Medan pertempuan yang tampak hancur-hancuran, terlihat nyata terasa bagaikan hidup, dan para karakter terlihat seolah bisa mati setiap saat, dan pada akhirnya memang banyak dari mereka yang mengalami hal tersebut.
Sang tokoh utama, Nantz, didukung oleh Sersan Santos (Michelle Rodriguez), Kopral Harris (Ne-Yo), Kopral Imlay (Will Rothhaar), bersama dengan regu lain, mencari jalan untuk tetap bertahan hidup, melalui jalan-jalan, gang, rumah-rumah, jalan tol, dan bahkan selokan daerah Los Angeles Barat yang paling terkenal.
Para aktor menghabiskan waktu selama tiga minggu berada di kamp pelatihan untuk berbagai persiapan peran, dan pelatihan profesional mereka tampaknya otentik, karena mereka mengenakan rompi 40-pon penuh peralatan, dan berjalan melalui jalan-jalan LA yang telah direkonstrukdi, dengan senjata yang menyala-nyala di tangan.
Musik dikomposeri oleh Brian Tyler, yang sering memberikan efek bass — membuat jantung berdebar, namun tetap sinkron dengan aksi yang ditampilkan di layar. Sedangkan pada saat keadaan normal, backsound benar-benar berperan dengan baik di tengah plot yang sedang berlangsung, memperdengarkan efek-efek khusus secara rinci, dan suara gemeretakan tulang.
Dialog memang terlihat sedikit kaku pada beberapa adegan, tapi semua itu tergantung pada si karakter tokoh. Skenario stereotip cepat dan sering menampilkan adegan yang menegangkan, memberikan cerita segar dengan interaksi yang unik, meskipun penonton pasti akan sedikit merasa diingatkan pada saat-saat menjelang klimaks dari film “Independence Day”.
Tagline film ini yaitu “The Battle Begins,” menyiratkan bahwa ini adalah yang sekuel pertama dari film yang akan datang.
Mengapa mereka memilih untuk memulainya di Los Angeles, itu tidak pernah dijelaskan dalam film ini. Tetapi jika mereka tetap mampu menjaga intensitas dan kualitas film sekuel berikutnya, hampir setara dengan sekuel pertama ini, tentunya saya dengan senang hati akan mengikuti sampai habis cerita ini. Pertempuran, keberanian, pengorbanan pribadi, dan semangat pantang menyerah dari sekelompok manusia, membuat “Battle: Los Angeles” ini memiliki segala yang Anda idamkan dari sebuah film aksi fiksi ilmiah.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates